.jpg)
Ilustrasi keamanan siber. Sumber gambar: Peris.ai
Kabar bagus datang dari Manila, Filipina. Startup keamanan siber asal Indonesia, Peris.ai Cybersecurity, resmi menyabet penghargaan tertinggi Best Award – 1st Place pada ajang Korea–ASEAN AI Youth Festa 2026 yang digelar 4–5 November 2026. Peris.ai keluar sebagai juara pertama setelah menyisihkan 23 startup kecerdasan buatan (AI) lain dari 12 negara, dan membawa pulang hadiah utama sebesar US$20.000.
Ini bukan kemenangan kecil. Ajang ini mempertemukan startup-startup AI pilihan dari seluruh Asia Tenggara dan Korea Selatan, dan nama Indonesia yang berdiri di puncak jadi bukti bahwa talenta digital Tanah Air sudah bisa bersaing di level internasional.
Menang di Tengah 24 Startup dari 12 Negara
Korea–ASEAN AI Youth Festa 2026 mempertemukan 24 startup AI terpilih dari 12 negara, yakni 11 negara anggota ASEAN plus Korea Selatan. Program kolaborasi internasional ini diselenggarakan oleh National IT Industry Promotion Agency (NIPA) Korea Selatan dengan dukungan ASEAN–Korea Cooperation Fund (AKCF), sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem inovasi dan kolaborasi teknologi AI di kawasan.
Setelah melewati rangkaian seleksi hingga babak final, Peris.ai berhasil menempati posisi teratas. Penghargaan diterima langsung oleh David Nathan, Chief Business Officer (CBO) Peris.ai, bersama Eva Sit dan Regina Cintya dari tim Business Development perusahaan. Posisi kedua diraih startup asal Korea Selatan, sementara posisi ketiga menjadi milik startup tuan rumah Filipina.
Yang menarik, ajang ini bukan cuma soal piala. Penyelenggara juga mengundang lebih dari 30 lembaga investasi dan akselerator dari Asia Tenggara untuk sesi konsultasi langsung dengan para finalis. Artinya, kemenangan ini sekaligus membuka pintu pendanaan dan ekspansi regional bagi startup Indonesia.
Apa Itu BrahmaFusion, Senjata Utama Peris.ai?
Peris.ai maju ke kompetisi ini dengan pendekatan yang mereka sebut Agentic AI dan Hyperautomation Cybersecurity. Produk utama mereka bernama BrahmaFusion, sebuah platform orkestrasi dan otomatisasi keamanan siber.
Cara kerjanya gampang dibayangkan. Perusahaan besar biasanya memakai banyak sistem keamanan sekaligus — ada yang memantau jaringan, ada yang memeriksa ancaman, ada yang mencatat insiden. BrahmaFusion menghubungkan semua sistem itu dalam satu alur kerja, lalu mengotomatisasi proses investigasi dan respons saat insiden terjadi.
Kalau biasanya tim keamanan harus memeriksa ancaman satu per satu secara manual, sebagian besar proses itu kini bisa berjalan otomatis. Hasilnya: respons lebih cepat, penanganan lebih rapi, dan tim manusia bisa fokus ke keputusan yang benar-benar penting. Di tengah serangan siber yang makin cepat dan makin pintar, kecepatan respons seperti ini bukan lagi kemewahan — tapi kebutuhan.
Kenapa Kemenangan Ini Penting Buat Indonesia
Konteksnya jelas: ancaman siber terhadap Indonesia sedang tinggi-tingginya. Dashboard FortiGuard Labs per 7 November 2026 mencatat sekitar 350.600 aktivitas serangan siber yang terdeteksi menyasar Indonesia. Sektor perbankan, keuangan, dan asuransi menjadi sasaran terbesar dengan sekitar 214 ribu aktivitas, disusul sektor pemerintahan dengan sekitar 79 ribu aktivitas.
Perlu diluruskan: angka itu adalah data deteksi aktivitas ancaman — mulai dari pemindaian celah keamanan, percobaan intrusi, sampai trafik berbahaya yang berhasil diblokir sensor. Bukan berarti seluruh serangan itu berhasil menembus sistem. Hingga berita ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) maupun Fortinet yang mengonfirmasi angka tersebut secara spesifik.
Tapi gambaran besarnya tetap sama. BSSN mencatat sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025. Kebutuhan akan keamanan siber di Indonesia nyata dan besar — dan kemenangan Peris.ai menunjukkan bahwa solusi untuk kebutuhan itu bisa lahir dari anak bangsa sendiri, bukan cuma diimpor dari luar.
Bukan Sekadar Piala
Peris.ai sendiri menyatakan kemenangan ini memperkuat kehadiran global mereka di bidang keamanan siber berbasis AI. Dan buat ekosistem startup Indonesia, ini kabar yang lebih besar dari sekadar satu piala: startup lokal yang fokus ke teknologi dalam — bukan cuma aplikasi konsumer — ternyata bisa menang di panggung internasional.
Buat kita yang sehari-hari hidup di dunia digital — dari urusan perbankan sampai data pribadi di ponsel — kemenangan seperti ini patut diapresiasi. Di balik layar, ada orang-orang Indonesia yang sedang membangun benteng digital buat kita semua.
Selamat buat Peris.ai. Semoga ini jadi langkah awal, bukan garis finis. Dan semoga makin banyak startup teknologi Indonesia yang berani unjuk gigi di panggung dunia.
Baca juga: 5G Jadi Fondasi AI, Komdigi Target Internet 100 Mbps Lebih Murah
Sumber: RCTI+ (6 November 2026), Investor.id, peris.ai (situs resmi), industry.co.id (7 November 2026).
0 komentar:
Posting Komentar